Kenapa sekolah IT ?

Banyak orang yang tanya, “kamu kan cewek, kenapa sekolah IT ?” kenapa nggak ambil ekonomi, manajemen, komunikasi atau sastra ? Bersyukur banget punya orang tua yang nggak pernah maksain anaknya harus sekolah di mana dan ambil peminatan apa, jadi saya bebas memilih sekolah dan peminatan.

Awalnya saya juga tidak begitu paham sekolah IT itu bagaimana, waktu SMP kelas 3  saya hanya berpikiran untuk sekolah yang jauh, dalam artian saya maunya mandiri, jadi anak kost, saya mau suasana baru dan nggak mau sekolah yang ketemunya anak itu lagi anak itu lagi. Ini adalah alasan pertama yang sebenarnya nggak mendasari saya memilih sekolah IT sih, hehehe. Akhirnya setelah lulus dari bangku SMP saya memutuskan untuk sekolah di luar kota yaitu di SMK TELKOM SHANDY PUTRA Purwokerto, salah satu sekolah favorit di kota purwokerto yang sebagian besar siswanya berasal dari luar kota purwokerto sendiri pada waktu itu.

Di stematel ( sebutan SMK TELKOM SHANDY PUTRA Purwokerto ) ini pada tahun ajaran saya masuk hanya ada 3 jurusan yaitu TAR (Teknik Akses Radio), TKJ (Teknik Komputer Jaringan) dan RPL (Rekayasa Perangkat Lunak), saya mulai mengeliminasi jurusan TAR karena kata orang jurusan ini lebih sering naik tiang atau tower, mengukur jalan, kuras manhole intinya lebih sering kepanasan jadi jurusan ini saya eliminasi. Jurusan kedua yaitu TKJ, dalam hati saya ‘masa cewek ngulur-ngulur kabel sih ? males ah’, oke jurusan ini saya eliminasi lagi. Pilihan terakhir hanya RPL yang mau tidak mau harus saya pilih. Nama jurusannya saja sudah aneh, intinya saya cuma tau kalo RPL ini adalah jurusan dimana anak-anaknya cuma duduk depan komputer, di dalam ruangan berAC lalau ngetik bikin program komputer. Oke lah, yang penting nggak kepanasan !

Dari sini lah saya mulai mengenal dunia IT sesungguhnya. Banyak tantangan di jurusan ini, tugasnya bisa sampe bikin kamu begadang, kamu dituntut berpikir dan memahami logika. But its fun, banyak teman seperjuangan dari berbagai daerah dan itu yang membuat satu sama lain saling menguatkan ketika kita harus berjuang sampai mendapat gelar lulus.

Alasan kedua, ini menurut pemikiran saya yang entah dari sudut mana, sekolah IT itu bikin kamu nggak bosen karena dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi. Kalau ekonomi kan prinsipnya “mendapatkan barang/jasa sebanyak-banyaknya dengan pengorbanan sedikit-dikitnya”. Ya udah, itu itu saja yang dikerjakan, bikin bosen.

Alasan ketiga, lagi-lagi ini menurut pemikiran pendek saya, anak IT itu bisa belajar apa saja, bisa belajar materi ekonomi, rancang bangun dan lain-lain. Banyak resource yang bisa kita cari di internet. Coba anak perikanan ? buat browsing aja masih tanya kan, kok internet saya nggak jalan ? (ini jaman internet belum hits seperti sekarang). Anak akutansi, kan mereka pake software dari anak IT, sudah pasti dong anak IT lebih tau flownya bisa lah kalau suruh mengerjakan pekerjaan anak akutansi.

Ini semua menurut pemikiran saya saja sih dulu sebelum memilih sekolah, kalau sekarang “kenapa memilih sekolah IT ? ” jawabannya adalah sekolah IT itu bikin kamu fleksibel dalam artian sebagai orang yang bergelut di bidang IT saya punya waktu yang fleksibel untuk bekerja, banyak belajarnya dan sekolah IT itu bikin kamu berpikir kritis.

Tip bagi waktu, tenaga dan uang

Tip bagi waktu, tenaga dan uang sebagai anak rantau. Judul artikelnya sok bijak banget nduk, tumben ! ( hahaha ). Sebagai anak muda yang sedang berada di usia produktif, saya rasa penting sekali adanya ‘aturan diri’ untuk menjaga hidup supaya sejahtera selalu.

Latar belakang nulis ini sih sebenernya agak sumuk (gerah) liat postingan di medsos tentang curhatan cewek yang menye-menye masalah ngurus rumah, biasanya pasangan yang baru merit. Entah baru pindahan rumah dan tidak ada pembantu.

Kenapa kalian menye-menye ? ? ? Ngurus rumah itu fun lho, hehehe … Kamu bisa menuangkan hobi dekor rumah, memasak, belajar bagi waktu, mulai membuat aturan rumah sendiri dan banyak hal lain yang tentunya membuat kita terus belajar dan belajar.

Sebagai anak yang hidup di perantauan (semi sih, sebenarnya jakarta itu kampung halaman bokap ), saya harus bisa bagi uang ! agar tidak terlilit hutag atau tidak bisa bayar kost. Saya sudah cukup lama hidup di jakarta tapi baru beberapa bulan yang lalu memutuskan untuk tinggal sendiri (sebelumnya saya tinggal di rumah saudara saya) . Saya menyewa rumah sederhana sebagai tempat untuk menuangkan kreatifitas. Kebetulan adik saya kuliah di Jakarta juga, jadi dia memilih untuk tinggal bersama ibu keduanya ( iya ! itu saya ! ).

Sudah pasti setiap hari saya yang mengurus rumah, mulai dari masak, bersih-bersih sampai dengan urusan belanja dan bayar ini itu. Makin banyak to do list di trello saya pastinya.

Tujuan saya nulis ini ya semoga bisa bermanfaat buat orang banyak, agar kesejahteraan masyarakat Indonesia lebih meningkat karena setiap individu mulai sadar bagaimana mengatur kehidupannya sehari-hari menjadi lebih teratur (semoga ya).

Oke, berikut uraian bagaimana saya membagi waktu, tenaga dan uang selama ini.

Bagaimana saya membagi uang dari pendapatan (gaji) yang saya peroleh selama ini sebagai  programmer serabutan ?

Saya selalu membagi pendapatan saya dengan prinsip 1/3 1/3 1/3 . Tidak tahu nemu rumus dari mana, pokoknya semenjak saya bekerja mengalirlah prinsip itu dengan sendirinya.

1/3 pertama : biasanya saya gunakan untuk menabung, ini wajib !

1/3 kedua : saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Kalau anak perantauan ya misalnya bayar kost atau sewa rumah, listrik, asuransi, internet, air dan lain-lain yang biasanya dibayar satu bulan sekali. Biasanya budget ini juga saya alokasikan untuk belanja ‘bulanan’ layaknya ibu-ibu di Indonesia (beli minyak sayur, beras, sabun, dll).

Ingat ya, kalau pilih kost atau sewa rumah jangan sampai harganya lebih dari 1/3 gaji kamu!

1/3 yang ketiga : saya gunakan untuk operasional sehari-hari. Biasanya saya gunakan untuk alokasi konsumsi, transport, jajan, termasuk kondangan yang tak pernah diduga-duga itu. Untuk masalah makan, tidak usah terlalu mewah asal memenuhi gizi saja agar badan tetap sehat dan dapat bekerja maksimal. Saya biasanya ke supermarket yang menawarkan harganya agak ‘miring’ untuk berbelanja sayur dan bahan makanan lainya. Untuk mengehemat dana ini, saya mulai mencoba untuk menanam sayuran sendiri di rumah dan hal ini menjadi hobi baru untuk saya.

Di akhir bulan menuju pay day, jika dana ini masih tersisa, saya setorkan saja ke tabungan atau saya gunanakan untuk beli sepatu atau liburan 😀 ( senyumin manis sekali lagi 😀 ).

 

Lalu, bagaimana saya membagi waktu dan tenaga sebagai  programmer serabutan sedangkan saya juga harus mengurus rumah ?

Mulai pukul 05:00 pagi setelah saya sholat subuh. Langsung ke dapur untuk masak, biasanya untuk bekal makan siang sekaligus untuk menu malam, sarapan lebih suka minum susu, oat, roti atau buah. Bisa juga untuk menu sarapan dan makan siang, kalau masak untuk sarapan dan makan siang, menu makan malamnya saya pilih yang simpel saja. Misalnya, nasi putih, nuget dan salad. Jadi, dalam satu hari, saya hanya perlu masak satu kali saja. Karena saya tipe orang yang bisa makan dengan menu yang sama pada waktu makan siang dan malam atau sarapan dan makan siang, jadi hal ini tidak masalah yang penting makan dalam sehari saya harus makan sayur .

Setelah masak, lanjut cuci baju atau mengepel lantai. Ini bisa bergantian, jadi kalau hari ini saya cuci baju berarti besok ngepel lantai. Setelah tugas ini selesai, baru beres-beres rumah kemudian mandi lalu bersiap untuk bekerja ke kantor ( jadi dari pagi saya idak mandi >,< ). Saya mulai meninggalkan rumah biasanya jam 09.00 pagi untuk berangkat ke kantor. Saya menerapkan untuk jalan kaki ke kantor, kebetulan rumah yang saya tinggali tak jauh dari kantor dan menurut saya jalan kaki di pagi hari lebih efisien dari pada naik angkot. Karena jika naik angkot akan memakan waktu yang lebih lama karena macet.

Pukul 19.00 pulang dari kantor, makan malam, istirahat sejenak dan biasanya jam 21.00 buka laptop mulai ketik-ketik mengerjakan pekerjaan yang lain selain kerjaan kantor atau untuk menambah ilmu baru, batasnya sampe jam 24.00 . Kalau lebih dari jam 12 malam, itu artinya memang kadang tidak bisa tidur dan di akhir pekan sampai mata mulai terasa mengantuk 😀

Di akhir pekan biasanya saya gunakan untuk belanja mingguan ( mengisi stock sayur untuk seminggu ke depan), bersih-bersih rumah, setrika baju, bersosialisasi atau bahkan liburan.

Begitulah kira-kira yang saya terapkan selama ini, buat yang malam hari profesinya bukan programmer seperti saya >,< bisa digunakan untuk family time. Kuncinya adalah mengerjakan sesuatu dengan ikhlas dan bersyukur, jadi tidak perlu menye-menye sampai dibawa ke medsos. Percuma saja jika sudah menerapkan point di atas tapi kalian tidak ikhlas dan bersyukur dengan apa yang didapat.

Semoga tip dari saya tentang membagi waktu, tenaga dan uang pendapatan dapat berguna khusunya bagi kita yang sedang dalam usia produktif.