Tip bagi waktu, tenaga dan uang

Tip bagi waktu, tenaga dan uang sebagai anak rantau. Judul artikelnya sok bijak banget nduk, tumben ! ( hahaha ). Sebagai anak muda yang sedang berada di usia produktif, saya rasa penting sekali adanya ‘aturan diri’ untuk menjaga hidup supaya sejahtera selalu.

Latar belakang nulis ini sih sebenernya agak sumuk (gerah) liat postingan di medsos tentang curhatan cewek yang menye-menye masalah ngurus rumah, biasanya pasangan yang baru merit. Entah baru pindahan rumah dan tidak ada pembantu.

Kenapa kalian menye-menye ? ? ? Ngurus rumah itu fun lho, hehehe … Kamu bisa menuangkan hobi dekor rumah, memasak, belajar bagi waktu, mulai membuat aturan rumah sendiri dan banyak hal lain yang tentunya membuat kita terus belajar dan belajar.

Sebagai anak yang hidup di perantauan (semi sih, sebenarnya jakarta itu kampung halaman bokap ), saya harus bisa bagi uang ! agar tidak terlilit hutag atau tidak bisa bayar kost. Saya sudah cukup lama hidup di jakarta tapi baru beberapa bulan yang lalu memutuskan untuk tinggal sendiri (sebelumnya saya tinggal di rumah saudara saya) . Saya menyewa rumah sederhana sebagai tempat untuk menuangkan kreatifitas. Kebetulan adik saya kuliah di Jakarta juga, jadi dia memilih untuk tinggal bersama ibu keduanya ( iya ! itu saya ! ).

Sudah pasti setiap hari saya yang mengurus rumah, mulai dari masak, bersih-bersih sampai dengan urusan belanja dan bayar ini itu. Makin banyak to do list di trello saya pastinya.

Tujuan saya nulis ini ya semoga bisa bermanfaat buat orang banyak, agar kesejahteraan masyarakat Indonesia lebih meningkat karena setiap individu mulai sadar bagaimana mengatur kehidupannya sehari-hari menjadi lebih teratur (semoga ya).

Oke, berikut uraian bagaimana saya membagi waktu, tenaga dan uang selama ini.

Bagaimana saya membagi uang dari pendapatan (gaji) yang saya peroleh selama ini sebagai  programmer serabutan ?

Saya selalu membagi pendapatan saya dengan prinsip 1/3 1/3 1/3 . Tidak tahu nemu rumus dari mana, pokoknya semenjak saya bekerja mengalirlah prinsip itu dengan sendirinya.

1/3 pertama : biasanya saya gunakan untuk menabung, ini wajib !

1/3 kedua : saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Kalau anak perantauan ya misalnya bayar kost atau sewa rumah, listrik, asuransi, internet, air dan lain-lain yang biasanya dibayar satu bulan sekali. Biasanya budget ini juga saya alokasikan untuk belanja ‘bulanan’ layaknya ibu-ibu di Indonesia (beli minyak sayur, beras, sabun, dll).

Ingat ya, kalau pilih kost atau sewa rumah jangan sampai harganya lebih dari 1/3 gaji kamu!

1/3 yang ketiga : saya gunakan untuk operasional sehari-hari. Biasanya saya gunakan untuk alokasi konsumsi, transport, jajan, termasuk kondangan yang tak pernah diduga-duga itu. Untuk masalah makan, tidak usah terlalu mewah asal memenuhi gizi saja agar badan tetap sehat dan dapat bekerja maksimal. Saya biasanya ke supermarket yang menawarkan harganya agak ‘miring’ untuk berbelanja sayur dan bahan makanan lainya. Untuk mengehemat dana ini, saya mulai mencoba untuk menanam sayuran sendiri di rumah dan hal ini menjadi hobi baru untuk saya.

Di akhir bulan menuju pay day, jika dana ini masih tersisa, saya setorkan saja ke tabungan atau saya gunanakan untuk beli sepatu atau liburan 😀 ( senyumin manis sekali lagi 😀 ).

 

Lalu, bagaimana saya membagi waktu dan tenaga sebagai  programmer serabutan sedangkan saya juga harus mengurus rumah ?

Mulai pukul 05:00 pagi setelah saya sholat subuh. Langsung ke dapur untuk masak, biasanya untuk bekal makan siang sekaligus untuk menu malam, sarapan lebih suka minum susu, oat, roti atau buah. Bisa juga untuk menu sarapan dan makan siang, kalau masak untuk sarapan dan makan siang, menu makan malamnya saya pilih yang simpel saja. Misalnya, nasi putih, nuget dan salad. Jadi, dalam satu hari, saya hanya perlu masak satu kali saja. Karena saya tipe orang yang bisa makan dengan menu yang sama pada waktu makan siang dan malam atau sarapan dan makan siang, jadi hal ini tidak masalah yang penting makan dalam sehari saya harus makan sayur .

Setelah masak, lanjut cuci baju atau mengepel lantai. Ini bisa bergantian, jadi kalau hari ini saya cuci baju berarti besok ngepel lantai. Setelah tugas ini selesai, baru beres-beres rumah kemudian mandi lalu bersiap untuk bekerja ke kantor ( jadi dari pagi saya idak mandi >,< ). Saya mulai meninggalkan rumah biasanya jam 09.00 pagi untuk berangkat ke kantor. Saya menerapkan untuk jalan kaki ke kantor, kebetulan rumah yang saya tinggali tak jauh dari kantor dan menurut saya jalan kaki di pagi hari lebih efisien dari pada naik angkot. Karena jika naik angkot akan memakan waktu yang lebih lama karena macet.

Pukul 19.00 pulang dari kantor, makan malam, istirahat sejenak dan biasanya jam 21.00 buka laptop mulai ketik-ketik mengerjakan pekerjaan yang lain selain kerjaan kantor atau untuk menambah ilmu baru, batasnya sampe jam 24.00 . Kalau lebih dari jam 12 malam, itu artinya memang kadang tidak bisa tidur dan di akhir pekan sampai mata mulai terasa mengantuk 😀

Di akhir pekan biasanya saya gunakan untuk belanja mingguan ( mengisi stock sayur untuk seminggu ke depan), bersih-bersih rumah, setrika baju, bersosialisasi atau bahkan liburan.

Begitulah kira-kira yang saya terapkan selama ini, buat yang malam hari profesinya bukan programmer seperti saya >,< bisa digunakan untuk family time. Kuncinya adalah mengerjakan sesuatu dengan ikhlas dan bersyukur, jadi tidak perlu menye-menye sampai dibawa ke medsos. Percuma saja jika sudah menerapkan point di atas tapi kalian tidak ikhlas dan bersyukur dengan apa yang didapat.

Semoga tip dari saya tentang membagi waktu, tenaga dan uang pendapatan dapat berguna khusunya bagi kita yang sedang dalam usia produktif.